Rabu, 06 Juli 2022

 

RAMADHANKU BERLALU

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb

 

Bertalu panjang dan menghentak hingga menabuh bongkah dosa

Rasa itu bertebar menyentak-nyentak sendi meluruhkan hasrat

menyeruak hingga darah aorta menyembur bagai sesal nan padat berlapis lara

cintaku pada  adzan maghrib dengan rasa ramadhan melangit

melenggang meninggalkanku dalam sesal

kucari kurabai sudut-sudut hari lewat sujud siang dan malam

pun dalam untaian takbir, tahmid dan tasbih

tak ada lagi, takku dapati, pergi

malam panjang tak lagi berjiwa,

lantunan surah menjad elegi dingin membalut hening

tak berharap malam qodar meski angin tak berdesir

 tak mimpikan qodar meski gemintang dan rembulan sempurna

usai sudah, berlalu tanpa kepastian kan kembali

sejumput asa kuronce meski raga bukan milikku

menunggu kembali untuk kupeluk, kucintai

kujamu dengan sajian robani hingga sepanjang tahun tak hilang rasa

 

                                                                                                Tanjungpandan, 11 Mei 2022

 





 AYAH

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Kupandang wajahmu dalam diam 
seribu gurat padati kening 
anak-anak rambut memutih tandai usia melebur dalam raga yang semakin renta
kupinta masa pada Tuhan demi mencium tanganmu setiap hari 
mengais ridhamu yang masih tersisa 
ku tahu Tuhan telah tuliskan semua meski pekikku parau tak kan berganti 
semua terhenti pada kendali dan kunci - kunci 
maafkan atas luka yang banyak kugoreskan di hatimu 
ku tak berdaya menutupnya kembali 
doaku ada pada pena - pena malaikat yang tertulis jikamu ridha 

kupandang wajahmu dalam tidur
indahnya masa kecil yang kau lukis untukku tiada terganti 
meski ku cari padan hingga pada kaki langit 
kasihmu membuatku ada dan punya rasa 
hardikmu membuatku kuat dan bermakna 

kupandang wajahmu dalam doa
jika ada perih dihatimu itu dariku 
tlah lama kuberjuang menghapusnya dengan doa dan cintaku 
dengan akhlaq budi bahasaku 
dengan jariyahku untukmu meski kutahu belumlah cukup

Ayahku,
ilalang liar di kebun kita tersenyum kepadaku 
ceritakan tentang sore milik kita 
betapa engkau tak henti ajarkan sujud dan tilawah 
hingga ku tak kuasa meninggalkannya

Ayah kenangku pada perjalanan yang pernah kita buat menyusur hari hingga penat 
membuatku fasih memaknai hidup 
bukan pada etalase - etalase indah kau tunjukkan 
tapi buku-buku yang terus ada dan tak lekang hingga ku jauh darimu

Ayahku,
pokok jambu di depan rumah kita simpan cerita 
tentang pagi yang menguning oleh mentari 
tentang musim bunga seroja 
tentang mawar yang enggan berbunga 
aku menyimpannya di sini untuk tepiskan rinduku
rinduku padamu, ayahku 


Selasa, 05 Juli 2022



 KADO

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


ku menari bersama petang yang merayap

girang pada kado indah untukku

maknanya membuai segenap rasa bukan harga 

kudekap sepertiku mendekapmu dulu 

selaksa ingin  membenamkan kembali dalam hangatnya rahimku 

baru kemarin mengantarmu pada meja - meja mengenal aksara

anakku kembali dengan seikat bunga dan sebaris  doa 

bukan nama indah yang membuatmu jumawa

bukan balai - balai megah yang membuatmu pongah 

mimpiku pada cendana mewangi dalam barzahku dari kadomu di tepian sujud 

mengalirlah agar tak henti benderang


bila langkahku telah terhenti 

pada untaian dzikir kutitipkan air mata dan darahku untuk kau sebut di setiap pinta 

ku tak punya lagi yang lain selain kado indah doamu 

jariyahku ada pada akhlaqmu


bila langkahku telah terhenti 

basuhkan ragaku dengan kedua tanganmu 

tundukkanku dengan kasihmu 

pada jazadku bila pulang kau lafadzkan tahlil dengan bibirmu 

terimakasih untuk kadonya hari ini


                                                                                        Air Seruk, 5 Juli 2022



 SURAT UNTUK SAHABAT

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Uluran tanganku kau tepis di depan khalayak 

ku takkan bergeming jika kan mampu enyahkan perih di hatimu 

ku tak punya pesona tuk merayu 

harapku Tuhan kita ampunkan segenap dosa alpa dan aniaya yang merenggut persahabatan ini 

bukan lelah yang membuatku berhenti mengejarmu 

keniscayaan yang telah lama kupahami padamu


doaku untukmu tentang seikat angan 

bukan kesaksian yang panjang dan abadi karena Tuhan tak memberi 

ku ingin rasa yang kemarin ketika tak satupun cidera 

berpegangan memandang cakrawala 

gantungkan semua asa pada gemintang langit 

dan indahnya membuatku lapang 

luaskan kalbu dendangkan gending lama 

mengalun mengisahkan perjalanan - perjalanan usang kian bernilai 

jika ada sajak kita yang retak kau coba pecahkan saja 

biarkan aku yang terluka 

aku kan tetap tersenyum menunggu pelangi di sini


bila indah daun nyiur menyentuhmu pastikan aku ada untuk sebuah doa 

tak perlu kau paksa jika ku tak pantas ada 

biarkan saja ku tetap berdoa agar lekas tiba penebus luka

masih adakah waktu untukku kutak ingin pulang tanpa maafmu


                                                                        Negeri Sejuta Pelangi, 24 Juni 2022



MURAJA'AH

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Ku baca berulang hingga nanar dan kusam ditepian kitab 

terus ku ulang berharap bersemayam dalam kalbu 

Robbiku, kutahu bukan itu 

karena janjiMu Engkau sendiri yang akan meletakkannya di sini 

di relung dan sekujur perilakuku 

bilakah ? 

barangkali aku belum cukup terpuji 

ragaku masih penuh dengan angan 

jiwaku belum juga selesai dengan mimpi 

berharapku terlampau hingga lupa pada perjalananku yang telah jauh 

kepingan cerita berserak dalam warna-warna 

barangkali aku kurang lama mengeja asmaMu dalam diamku 

kurang indah roncean tasbih tahmidku

barangkali sujudku kurang dalam meski sajadahku menipis didera usia 


kurasakan rembulan di penghujung malam seperti menorehkan sembilu 

betapaku takut kehilangan hari dan harus pulang tanpa isi kitabMu 

izin aku ya Robbi bawakan aku terang agar kuasa  

pulang dengan untaian firmanMu di kalbuku


                                                                                Air Seruk, 2017




I'TIBAR ALAM

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Padamu angin sahabat samudra melambai bergelayut manjakan kibar bendera 

terkesimaku pada kawanan kelayang berbaris 

terpukauku pada ombak yang mengayun jelita

laju perahu menyibak hingga pecah sisakan riak 

mercusuar menjulang diujung pandang perkasa bak paku bumi 

sepotong elegi bagimu negeriku nan molek 

tak kuasa ku beranjak 

terpatri pada indahnya paduan bebatuan dan hamparan pasir putih 

takjub pada mahakarya Tuhan


sebentuk pulau kepingan surga bagiku meski kuyakini surgaMU tiada terkira 

syukur terdalam Engkau izinkanku pernah ada di sini 

bentang alam rupawan nyanyian syair para pujangga


penantianku pada subuh yang sani dengan seberkas bintang yang enggan pulang 

berebut waktu dengan mentari

ufuk timur berselendang lembayung bagai raga dalam dekapan kekasih 

hangatnya merambat disetiap hembusan nafas 

sirnakan embun yang berbulir pada daun-daun bakau 

                                                                            

                                                                                        Pulau Lengkuas, 2018






PENGANTIN BELITONG
oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb

Pesona baju seting membalut indahnya lekuk pengantin 
merah merona bertabur manik - manik keemasan
baju kurung pengantin Belitong
laksana bidadari turun dari ujung pelangi 
paksian mahkota burung merak nan indah hiasi kepala 
lengkapi tutup sanggul kembang hong
bukan atas nama kesombongan melainkan anggun mempesona
motif bunga dominasi seluruhnya
perlambang kesucian, rizki dan segala kebaikan
teratai merah dan hijau tutupi dada
sempurna berhias ornamen kuntum cempaka, kembang goyang dan daun bambu 
eloknya gelang pending pembentuk raga
roncean melati lengkapi busana


bertalu - talu suara gendang pengantin menghentak dada 
selamat datang pengantin pria
gagah berjubah bak raja - raja 
selempang bahu serasi menawan 
selop pending langkah wibawa 

gendang meredup ditingkah beradu pantun penyemarak adat berebut lawang 
berbuah gelak penonton dan kekeh para tetua 
para undangan duduk bersila diantara dulang - dulang saji 
semarak dengan renda-renda penghias mentudong 


                                                                                Air Seruk, 25 November 2021

 



BILIK KELAM

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Aku melangkah separo mengendap serasa tak pasti tapaki bumi 

takut pada angkernya terali 

tugasku membuatku terus melangkah meski setapak semakin sunyi

tersembunyi 

Tuhan jauhkan kami dari tempat seperti ini 

kelam semakin nyata ketika kutemukan bilik kusam jauh dari ingar bingar 

bilik penempa diri

mencoba luruhkan dosa dan aniaya


jemariku gemetar membuka kitab perlahan kubuka kata 

sejenak air mataku mengurai tak jelas dari mana 

kutahu disebalik dadaku bergejolak antara gamang dan pilu melebur kelukan lidahku 

padamu rasa yang hilang atas rindu 

padamu jiwa yang melembut oleh sujud-sujud nan dalam 

tetaplah berjuang di sini dekap Tuhan kalian dengan air mata sujud dan tilawah


Sebentuk raut jelita tersenyum sepasang matanya jelajahi wajahku

senyum getir dibibirnya kukenali 

seribu tanya mengejarku mengapa kutemukan di sini 

aku tak ingin menjawabnya aku hanya ingin memeluknya 

kumpulkan cinta sematkan asa untuknya


bilik kelam untuk sebuah kesalahan 

berharap Tuhan ampunkan di bumi untuk keridhaan seluruh penduduk langit 

bilik kelam bukan untuk dipinta bukan tempat untuk kita

tak semestinya kalian di sini


                                                                             Belitung, Juni 2014

Senin, 04 Juli 2022

 





KANAK-KANAK

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Gelak ceria dan pekik riang berebut merobek hari 

kanak-kanak berlarian di pelataran sore 

nikmati masa menghitung kelana 

kanak-kanak melengok menari dan bernyanyi pecahkan beku

berhias mahkota kenanga, seroja dan begonia 

tebaran kelopak mawar wangikan taman 

mentari genit bersinar tembusi ranting - ranting pokok jambu 

soleram lagu kanak kanak berputar berulang ramaikan raya permainan lompat tali 


bagimu kanak-kanak negeri asahkan nyali dengan temali nan menjulang 

asihkan kalbu dengan persahabatan dan permainan

di depan sana jalanan terjal tebing curam dan lembah hijau menanti kalian 

cintai negeri ini dengan cara kalian 

penuhi jiwa dan ragamu dengan cinta putih 

hapuskan kusam pada sayap garuda 

hentikan hujat pada slogan bhineka tunggal ika 


Kanak-kanak sembunyi di sebalik perdu gembulnya gayangkan daun

Kanak-kanak berlari temukan sekantong gelak bagi tembang esok hari 


                                                                                        Air Seruk, 20 November 2002




 BIDAN

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Ingin ku tetap membumi ditengah lenguh lara para perempuan 

tak kuasa hentikan taburan kasih mengalir ketika sapa tak berdaya 

letihku hilang bagimu para perempuan 

Tuhan kirimkan kedua tanganku bagi bayi - bayi mungil kita pejuang harapan pertiwi 

lantun sholawat untukmu malaikat - malaikat kecil ku, 

selamat datang

ku tak miliki senandung yang lebih merdu untuk kalian 

ku tau kalian suci 

tak bernyali kunodai dengan kalimat lain 


perempuan di pembaringan meringis dalam senyuman 

bahagia mengalahkan lara 

ku seka kening basahnya sisipkan asa

penantian nan menyakitkan akan segera hilang duhai syahida


padamu siang yang setia saksikan lelah ragaku dalam jiwa berjaga 

kutitipkan kesaksian untuk Tuhanku di penghujung perjalanan 

padamu malam yang setia saksikanku terjaga di sepertigamu 

kutitipkan kesaksian untuk Tuhanku yang pengampun 

atas langkah yang alpa atas lisan yang aniaya

padamu bait-bait rindu yang merangkum keluargaku 

kutitipkan kesaksian bahwa betapa aku mencintai kalian

aku tetap di jalan ini tebar cinta dengan kedua tangan kiriman Tuhan


                                                                                            Air Seruk, 28 Juni 2002




PESONA SENJA TANJUNG TINGGI

oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb


Ombakmu menari ditiup angin pudar di bibir pandai,

lembut tanpa gemuruh tanpa debur hanya riak - riak kecil berlompatan

pantai tanjung tinggi nan eksotik 

tumpukan batu granit bak singgasana diraja pongah menjulang 

sisakan takjub bagi tangan Tuhan atas bentang alam 

dicipta dalam senyum dan rahmatNYA hingga tak kutemukan cela

tepian pantai memutih hamparan butiran pasir terbang rendah sesaat untuk kembali rebah


kularungkan sejumput cinta pada jernihnya 

membaur elokkan lukisan Tuhan indah tak terperi hingga enggan beranjak 

terkesima pada pesona paripurna

mentari berselimut mega berangkat pulang pada peraduan tembaga 

lamban seperti tak bergeming

barisan kapal nelayan menyemut berebut garis pantai 

tumpahkan ratusan belanak, ekor kuning dan kerisi bali  

anyir menyeruak membaur seantero pantai lantas hilang ditepis angin yang berderap


murai batu singgah di ranting bakau sebelum pulang 

genit berikrar pada pesona senja 

besok aku kan ada menari bersama pagi sesaat setelah mentari datang 

lantas kepaknya lenyap ditelan lembayung yang makin nyata melukis langit pantai 

cakrawala ditaburi ribuan kelayang bergegas menuju sarang lengkapkan sajian senja 

kumandang takbir memaksaku beranjak tinggalkan ufuk yang makin merona

tak kuasa berkhianat pada pemilik pesona 


                                                                                                Tanjung Tinggi, Juni 2018


PERIH oleh : Wahyu Heany Prismawati, AM.Keb  Gelisahku kutitipkan kepada untaian bintang di langit malam  kerlipnya menepis gundah seperti t...